Setiap
anak dilahirkan berdasarkan Fitrah,lalu kedua orangtuanyalah yang
membuatnya memeluk agama Yahudi,Nasrani atau Majusi ,sebagaimana Hewan yang
juga melahirkan hewan semuanya. Apakah kalian bisa merasakan diantara hewan itu
ada yang buruk makanannya? (Hadits Nabi).
Hadits diatas menjelaskan: bahwa setiap manusia itu dilahirkan dalam
keadaan Fitrah : tak bernoda dan tak beridentitas apa-apa. Peran Orang
Tualah yang mengarahkan anak-anaknya,apakah memeluk agama Islam,Kristen
atau yang lainnya.Dengan kata lain,Orang tua juga turut berperan untuk
mengarahkan anak-anaknya menjadi seorang Ulama,Pengusaha,pendidik bahkan
seorang penjahat.Meskipun pada titik ini,kita juga tak bisa mengelakkan Faktor Hidayah Tuhan atau faktor
lingkungan yang membentuk karakter ditengah jalan.
“Anak
merupakan titipan Tuhan”. Bila titipan itu tidak bisa dijaga dengan
baik,tentu akan hilang.Sebaliknya,bila titipan itu dijaga secara teliti dan
seksama,tentu dia juga akan terpelihara dengan baik,seperti anak shaleh yang
selalu mendo’akan kedua orangtuanya.
Selain Keteladanan Orang Tua,juga harus mengajarkan
anak-anaknya pendidikan agama dengan baik :- Sejak kecil,anak harus diajarkan
tentang Tuhan dan sifat-sifatnya : seperti Shalat 5 waktu,Puasa dll.
Ringkasnya,Haya Al-Mubarak memberikan
“Tips” bagaimana cara yang baik mendidik anak,seperti
berikut ini :
1. Tidak boleh membiasakan hidup mewah atau tidak boleh membuatnya
menyenangi hiasan dan kesenangan,sehingga dikhawatirkan akan membuatnya
terseret kepada Kehancuran bila besar
nanti.
2. Orang Tua harus mengawasinya sepanjang
masa,tidak boleh mengambil pembantu atau orang yang menyusui kecuali wanita
Shaleha,berpegang kepada Agama dan hanya memakan yang halal-halal saja.
3. Pengawasan
terhadap anak harus dilakukan dengan cara yang baik.Jika anak merasa malu dan
tidak mau melakukan sebagian perbuatannya,maka hal itu tidak dilakukan kecuali
karena kemuliaan akalnya.
4. Jika
ada sifat-sifat anak yang menjurus kepada keburukan tatkala makan
,maka dia harus segera diarahkan : Seperti : - makan harus
membaca do’a : Bismillah, - anjuran makan dengan menggunakan tangan kanan, -
mengambil makanan yang dekat dengan
tempatnya, - tidak terlalu cepat tatkala makan,
tak boleh bersuara ketika
mengunyah,dsb.
5. Membiasakannya
mengenakan pakaian tidak berwarna-warni dan sutera,mengarahkan anak yang
terlanjur menyenangi kemewahan dan mengenakan pakaian untuk gagah-gagahan. “ Jauhilah
hidup bersenang-senang,karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang yang hidup
bersenang-senang” (HR. Ahmad)”.
6. Jika
anak memperlihatkan akhlak yang baik,maka dia perlu mendapat pujian atau
hadiah yang menyenangkan hatinya atau dipuji dihadapan orang lain.Jika
sekali waktu dia melakukan yang buruk,maka keburukannya tidak perlu diungkap
secara langsung, apalagi jika dia sendiri berusaha untuk menutupi dan tidak
menampakkannya.
7. Mengajarkan anak agar tidak boleh membanggakan
diri didepan teman-temannya.Tetapi dia harus dibiasakan “Tawadhu”
(rendah diri) dan menghormati setiap orang yang bergaul dengannya serta berkata
lemah-lembut,tidak kasar.
8. Menyuruh
anak untuk tidak mengambil apapun yang ada didepannya. Tetapi dia
justru harus diajari memberi orang lain dan bukan mengambil dari orang lain.
9. Anak
harus dibiasakan tidak meludah didekat tempat duduknya dan
membuang ingus,tidak boleh melompat-lompat selagi ada tamu,tidak boleh
mengganggu,tidak boleh meletakkan kaki diatas kaki yang lain, tidak boleh
meletakkan telapak tangan dibawah dagu atau menyandarkan kepala ke lengan
tangan,karena perbuatan ini menunjukkan kemalasan.
10. Saat
kembali dari sekolah anak diberi kesempatan untuk bermain yang baik-baik,agar
memberinya kesenangan dan istirahat setelah lelah disekolah. Sebab jika anak
dilarang bermain dan terus-menerus dipaksa
untuk belajar,maka bisa mematikan hatinya, membekukan kecerdikannya dan
menjemukan hidupnya,sehingga dia akan mencari-cari alasan untuk keluar dari
keadaannya ini.
11. Anak
harus diajari taat kepada orang tua,guru,pendidik dan siapapun yang
lebih tua usianya dari kalangan kerabat atau tetangga,serta harus
menghormati mereka.
12. Ketika anak
sudah usia baligh, maka dia tidak bolah diberi kesempatan sedikitpun untuk meninggalkan
bersuci atau shalat dan sebagainya.
13. Jangan membiarkan anak-anakmu saling memasang jarak satu
sama lainnya.
14. Jangan
terlalu keras terhadap anak-anakmu. “Jika orang yang mendidik anak suka bersikap
keras dan memaksa,maka sikap keras dan paksaan ini akan menekan
jiwanya,sehingga menghilangkan semangatnya, mendorongnya bersikap malas, suka
berdusta dan berkilah,karena dia takut tamparan tangan yang dijatuhkan
kepadanya.” (Ibnu Khaldun)”
Menurut Abdullah Nashih Ulwan,
“Keteladanan merupakan sarana yang paling efektif dan berpengaruh dalam
mempersiapkan anak,baik dalam segi akhlak,pembentukan jiwa dan sosialnya.Sebab
pendidikan adalah teladan paling ideal
dimata anak .Teladan yang baik dimata
anak akan ditiru anak,baik dalam segi tingkah laku maupun
akhlak,disadari maupun tidak disadari.”
Demikian beberapa kiat bagaimana mendidik anak agar menjadi orang yang taat pada
Allah,berbakti pada Orang Tua,dan berguna bagi Nusa dan Bangsa. Namun perlu
disadari bahwa dari semua point-point tersebut,keteladanan dan contoh nyata
dari sikap sehari-hari Orang Tua merupakan Faktor yang paling menentukan dalam
membentuk akhlak dan perilaku anak-anak kita. Semoga kita bisa member mereka
teladan yang baik. AMIN.
Penulis
:(Eep.Khunaepi)
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar